Perempuan Bandung

pertengahan Nopember tahun dua ribu sembilan
perempuan Bandung itu menambatkan perkenalan
bertukar cerita, berbagi rasa dan saling mengabarkan
lewat jejaring fb sebagai media pertemanan
selebihnya adalah sunyi dan hasrat hati tertahan
sementara di sini angin menebar menepis debu

dia mengaku perempuan Bandung sejati
dan memang lahir di kota ini
dia tulis namanya De
selain itu dia juga mengaku suka puisi
selebihnya adalah keriap hati dibalut sepi
sementara di sini angin terus menebar menepis debu

dia mengaku tinggal di Lembang
di Parongpong, dekat Kota Kembang
yang mulai riuh karena banyak tempat tualang
perumahan mewah dan villa menjulang
mirip di puncak, di Cianjur seberang
selebihnya adalah ingui ngilu dan kembara langlang
sementara di sini angin masih menebar menepis debu

dia juga berceloteh
bahwa di kampungnya masih bisa jalan-jalan ke kebun teh
masih bisa menyejuki tanaman aneka warna di belakang rumah
masih ada kabut yang luruh membasuh
masih ada rindu yang setia mengaduh
selebihnya adalah kertiap hati yang mengeruh dalam alunan megatruh
sementara di sini angin kembali menebar menepis debu

dia juga bercerita
kampungnya dulu berselimut sepi setiap menjelang magrib tiba
begitu nyaman saat menapaki sepanjang jalan raya
tapi kini segalanya sudah berganti warna, rupa dan rasa
pesta kembang api mendenyar di mana-mana
di musim liburan, penghujung pekan, apalagi bila tahun baru tiba
selebihnya adalah geletar haru menumbuk dada
sementara di sini angin tetap luruh menebar menepis debu

ketika dia lebih banyak bercerita dengan hatinya
kubayangkan wajahnya sedikit merah merona
lalu kukirimkan sebuah puisi purba
sebagai kado perkenalan kami berdua
meski dengan kata-kata agak tergagap kerena degup di dada
dan kunjanjikan pula dia bisa menerima puisiku pada hari-hari berikutnya
saat aku tak dipenjara kesibukan kerja
saat sore menjelang maghrib tiba
saat terik matahari yang garang letih membakar kota
saat senja luruh bersama puisi purba
saat angin menebar menepis debu

suatu hari, De, kuharap kau akan mengerti
tentang cinta bersemi, dan tentang kesetiaan yang pasti

di sini, angin masih saja menebar menepis debu

Kandangan, 5 Juni 2010



#salah seorang teman yang menulis ini, khusus untukku, tak usah disebut namanya, untuk menjaga kenyamanan rasa yang lain, karena tidak semua bisa menerima kata lewat puisi...#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar